KriptoBitcoinBinanceKeamanan Siber

Binance Dibobol 6,3 Miliar Dolar. Bitcoin-nya? Tidak Ikut Jebol.

Pencurian kripto terbesar dalam sejarah baru saja terjadi di Binance: sekitar 6,36 miliar dolar AS lenyap dalam 20 menit. Tapi menyebut Bitcoin ikut jebol adalah kesimpulan yang salah, dan bedanya penting.

Lutfi Ikbal Majid
Lutfi Ikbal Majid
6 min read·Oct 31, 2026
Binance Dibobol 6,3 Miliar Dolar. Bitcoin-nya? Tidak Ikut Jebol.

Dua hari terakhir, judul yang berseliweran kurang lebih sama: Binance dibobol, dan Bitcoin “jebol”. Bagian pertama benar, dan skalanya sulit dipercaya. Bagian kedua perlu diluruskan, karena mencampur keduanya membuat kita salah membaca risiko yang sebenarnya.

Mari kita pisahkan klaim dari bukti, seperti biasa.

Yang terjadi, dalam angka

Kamis malam, 29 Oktober 2026, sekitar pukul 20:05 UTC, dompet-dompet milik Binance mulai mengosongkan diri. Menurut perhitungan firma intelijen blockchain TRM Labs, sekitar 6,36 miliar dolar AS berpindah keluar dari dompet Binance di sepuluh blockchain, sebagian besar hanya dalam waktu sekitar 20 menit.

Itu menjadikannya pencurian kripto terbesar dalam sejarah, kira-kira empat kali lipat rekor sebelumnya, peretasan Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS pada Februari 2025.

Rinciannya menurut TRM: sekitar 3,79 miliar dolar di jaringan Ethereum, lalu 18.270 BTC senilai kurang lebih 1,47 miliar dolar, dan sekitar 628 juta dolar di jaringan Tron, sisanya tersebar di rantai lain. Binance sendiri, dalam pembaruan resminya di X, menyebut estimasi dampak sekitar 6,3 miliar dolar dan menghentikan seluruh penarikan.

Harga Bitcoin ikut terpukul ke level terendah enam pekan, dan bersama Ether sempat turun lebih dalam sebelum pulih ke kisaran minus 2 sampai 3 persen pada Jumat siang, menurut CNN. Pasar wajar kaget. Tapi kaget bukan alasan untuk salah diagnosis.

Bagaimana brankas sebesar itu bisa dibuka

Ini bagian yang menurutku paling penting, karena jawabannya bukan “kriptografinya kalah”.

Investigasi awal Binance menunjuk satu pintu masuk yang sangat manusiawi: laptop seorang engineer DevOps yang berhasil dikompromikan. Dari laptop itu, penyerang masuk ke sebuah service container, komponen internal yang bisa mengirimkan transaksi penarikan tanpa otorisasi. Binance menegaskan sampai saat ini tidak ditemukan bukti kebocoran private key dompetnya.

TRM Labs menambahkan detail yang membuatku berhenti membaca sejenak. Di jaringan Ethereum, penyerang memakai EIP-7702, fitur delegasi yang membuat sebuah hot wallet bisa menyerahkan eksekusinya ke kode kontrak pintar yang dikendalikan penyerang, lengkap dengan 50 otorisasi yang sudah disiapkan dan ditandatangani sebelumnya. Ada pula penarikan-penarikan kecil bersifat uji coba selama 36 jam sebelum serangan utama, dan menurut co-CEO Richard Teng, penyerang memakai mekanisme self-destruct yang menghapus perkakas dan jejaknya sambil berjalan.

Dibaca pelan-pelan, polanya jelas: ini bukan peretasan terhadap matematika Bitcoin atau Ethereum. Ini peretasan terhadap operasional perusahaan, laptop karyawan, infrastruktur penandatanganan, dan proses persetujuan internal. Titik terlemah sistem kripto terbesar di dunia ternyata tetap titik terlemah yang sama seperti di semua sistem: manusia dan mesin yang ia pakai.

Uangnya ke mana, dan siapa pelakunya

Begitu aliran dana terdeteksi, para penerbit stablecoin bergerak cepat. Sekitar 3 miliar dolar AS berhasil dibekukan di rantai: Tether membekukan sekitar 1,57 miliar dolar, Circle lebih dari 800 juta dolar, Ripple sekitar 200 juta dolar, dan sisanya dibantu mitra lain termasuk World Liberty Financial dan BitGo.

Tetapi ada sekitar 2,4 miliar dolar yang berada di luar jangkauan pembekuan, sebagian besar berupa lebih dari 420.000 ETH dan 18.270 BTC. Alasannya sederhana dan akan kembali lagi nanti: stablecoin punya penerbit yang bisa menekan tombol bekukan, Bitcoin tidak punya siapa-siapa untuk ditelepon. Sekitar 60 juta dolar USDT curian sempat ditukar menjadi Ether di platform Aave sebelum sisanya terkunci.

Soal pelaku, TRM Labs dan Chainalysis sama-sama menunjuk TraderTraitor, unit peretas elite Korea Utara yang juga dituduh FBI berada di balik peretasan Bybit, dengan tingkat keyakinan tinggi berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain. Investigator independen ZachXBT sampai pada kesimpulan yang sama di X. Catatan pentingnya: Binance sendiri belum menamai siapa pun, dan belum ada pemerintah yang mengeluarkan atribusi resmi. FBI dan Secret Service Amerika Serikat sudah terlibat dalam penyelidikan.

Janji Binance, dan bukti yang masih ditunggu

Respons Binance sejauh ini bisa diringkas begini: semua kerugian ditanggung perusahaan. Co-CEO Richard Teng, lewat video di X pada 30 Oktober, menyatakan Binance telah menyisihkan lebih dari 6,34 miliar dolar dana perusahaan, dan 5 miliar dolar di antaranya sudah berbentuk token yang sama dengan yang dicuri, termasuk USDT, USDC, BTC, ETH, dan BNB. Co-founder Yi He mengulang janji yang sama: dana pengguna aman, semua kerugian peretasan ditanggung Binance lewat dana darurat SAFU dan kas perusahaan.

Dalam pembaruan pada 31 Oktober pagi, Binance menyebut sekitar 80 persen aset yang terdampak sudah diganti, sisanya sedang dibeli lewat pasar dan jalur OTC. Penarikan dana ditargetkan dibuka kembali secara bertahap sebelum Minggu, 1 November, dan laporan Proof of Reserves terbaru dijanjikan terbit Senin, 2 November.

Di sinilah sikapku seperti biasa: janji diterima, bukti tetap ditagih. Klaim “dana pengguna tidak terdampak” bertumpu pada pernyataan Binance bahwa yang dicuri adalah isi hot wallet milik perusahaan, bukan saldo pengguna. Tetapi CoinDesk mencatat dompet bernama Binance 14, salah satu yang terkuras, tercantum dalam Proof of Reserves 1 Oktober sebagai dompet penopang saldo pengguna, dan sekitar 204.500 ETH yang keluar setara 5,6 persen cadangan Ether mereka saat cadangan itu persis di rasio 100 persen. Artinya laporan Proof of Reserves hari Senin bukan formalitas. Di situlah klaim Binance akan terbukti atau retak.

Jadi, apakah Bitcoin jebol?

Tidak. Dan ini bukan pembelaan fanatik, ini soal definisi.

Yang dicuri penyerang adalah Bitcoin yang disimpan oleh sebuah perusahaan kustodian, di dalam dompet perusahaan itu, lewat sistem penarikan perusahaan itu. Protokol Bitcoin sendiri tidak menghasilkan satu pun transaksi tidak sah, tidak ada koin yang tercetak di luar aturan 21 juta, dan tidak ada satu blok pun yang ditulis ulang. Kriptografi Bitcoin tidak ditembus, sama sekali.

Analoginya begini: kalau brankas sebuah bank dirampok, kita tidak menulis berita “sistem moneter jebol”. Yang jebol adalah keamanan banknya. Bitcoin dalam kejadian ini berperan seperti emas di dalam brankas itu: nilainya nyata, bisa dipindahkan permanen, dan justru karena tidak ada penerbit yang bisa membekukannya, bagian Bitcoin dari hasil curian ini yang paling sulit ditarik kembali.

Pelajaran yang selalu berulang dari setiap peretasan bursa besar juga muncul lagi di sini. Risiko terbesar memegang kripto selama ini jarang berada di protokolnya, melainkan di lapisan di atasnya: bursa, kustodian, laptop engineer, dan proses manusia. “Not your keys, not your coins” terdengar seperti slogan lama, tetapi 6,3 miliar dolar baru saja membayar untuk mengingatkan kita semua kenapa slogan itu ada.

Yang akan kutunggu berikutnya ada dua: laporan teknis post-mortem dari Binance, dan Proof of Reserves hari Senin. Di antara keduanya, kita akan tahu apakah cerita ini berakhir sebagai perampokan terbesar yang berhasil ditanggung, atau awal dari krisis kepercayaan yang lebih panjang.

Sumber

Berita dan laporan utama:

Pernyataan resmi dan unggahan di X:

Recommended from Lutfi

See all writings